Minggu, 20 September 2015

Berita Bola Biarkan Saja Diego Costa, Tak Perlu Pendukung Arsenal Menjadi Dirinya

Berita Bola Biarkan Saja Diego Costa, Tak Perlu Pendukung Arsenal Menjadi Dirinya

sumber berita Biarkan Saja Diego Costa, Tak Perlu Pendukung Arsenal Menjadi Dirinya : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a04e676/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C210C0A90A4330C30A239690C14970Cbiarkan0Esaja0Ediego0Ecosta0Etak0Eperlu0Ependukung0Earsenal0Emenjadi0Edirinya/story01.htm
Pertanyaan: apakah Diego Costa bersalah? Jawabannya: ya dan tidak.

Apa yang dilihat kebanyakan orang sebagai kejahatan, saya lihat sebagai kemauan menang yang sangat besar. Dosa Costa bukan dua kali memukul Laurent Koscielny. Dosa Costa adalah terus mengusik Gabriel Paulista hingga mendapat reaksi yang ia harapkan. Namun mengenai hal ini, Gabriel juga salah.

Dari apa yang saya lihat Sabtu malam (dan selama ini), Diego Costa adalah seorang petarung. Tampaknya benar pendapat Arsene Wenger belum lama ini; Eropa sudah terlalu menghambakan diri kepada sistem pembinaan pemain muda sehingga mereka tidak mampu lagi melahirkan seorang petarung alami.

Dalam prosesnya, Eropa lupa pemain petarung itu seperti apa. Eropa tampak sudah benar-benar lupa sehingga ketika mereka melihat petarung Brasil berkebangsaan Spanyol bernama Diego Costa, mereka melihat seorang pemain yang tidak beradab dan tidak tahu aturan. Sebaliknya: Costa sangat paham aturan permainan.

Kontak fisik antara Costa danKoscielny adalah bagian dari sepakbola. Ketika seorang penyerang bertipe petarung berada sangat dekat dengan seorang bek tengah, seanggun apapun bek tengah tersebut, sentuhan yang sangat jelas terlihat pasti terjadi. Koscielny, yang matanya terus memperhatikan bola yang kapan saja bisa memasuki wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, menggunakan indera peraba yang ia miliki. Ia menempelkan tangannya di punggung Costa untuk membaca pergerakan lawan tanpa melihat. Costa, sewajarnya, mendorong Koscielny menjauh agar pergerakannya tidak terbaca. Jika pada akhirnya Costa tampak mengasari Koscielny, itu terjadi karena Costa pada dasarnya memang seorang petarung yang agresif, sementara Koscielny adalah bek tengah pemikir yang pergerakannya luwes.

Bahkan jika memang sebenarnya Costa memukul Koscielny dengan sengaja, seharusnya kita menanggapi hal tersebut dengan biasa. Pemain seperti Costa, yang nakal-nakal cerdik, bukan barang asing di sepakbola. Rekan saya di Pandit Football, Ammar Mildandaru Pratama, pernah bercerita, pertama kali berhadapan dengan lawan seperti Costa saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya yakin Mildan bukan satu-satunya anak keturunan Adam yang pernah berhadapan dengan lawan serupa. Jika di kelompok usia sepakbola gembira ria saja sudah ditemui pemain yang mengakali aturan, kenapa orang-orang seperti terkejut mendapati keberadaan pemain seperti itu di level profesional yang jelas-jelas menuntut kemampuan berpikir?

Nakal-nakal cerdik bukan hanya senjata penyerang. Di posisi manapun, ada saja pemain seperti ini. Pemain belakang seperti ini toh jarang ditemui karena risikonya besar jika wasit mendapatinya menyalahi aturan; pemain belakang dekat dengan kotak penaltinya sendiri sementara penyerang tidak. Dengan keberadaan pemain-pemain seperti ini, mengganggu lawan dengan mencubit, menyikut, menendang, atau menginjak lawan ketika wasit tidak melihat menjadi praktik umum di sepakbola.

Curang? Bukan, melainkan nakal-nakal cerdik. Menyalahi aturan? Tidak juga. Penentu salah atau benar di lapangan adalah wasit, dan ia mengambil keputusan berdasarkan pengamatannya, pengamatan hakim garis, atau (jika memungkinkan, menurut Laws of the Game) ofisial keempat. Seorang wasit tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang tidak dilihat olehnya dan oleh para asistennya. Dengan kata lain, selama wasit tidak melihat atau wasit tidak melihatnya sebagai pelanggaran, sah-sah saja mencubit, menyikut, menendang, atau menginjak lawan.



Costa layak dipandang sebagai pemain yang nakal-nakal cerdik karena andai ia memang memukul Koscielny dengan sengaja, ia melakukannya ketika dirinya dan pemain belakang berkebangsaan Prancis tersebut sedang terlibat kontak fisik di area tempat terjadinya banyak kontak fisik. Costa bukannya tidak melakukan tindakan yang berisiko; pukulannya terlihat jelas. Namun konteks permainan membuat tindakannya terlihat wajar. Sangat mungkin Mike Dean mengamini opini ini; memberi kartu kuning kepada Costa karena memukul Koscielny pun ia tidak.

Tidak mudah membuktikan dosa Costa dalam hal ini; menuduh Costa berdosa ketika membuat Gabriel Paulista menerima perintah meninggalkan lapangan dengan terpaksa, sementara itu, lain soal. Costa terus mengganggu Gabriel hingga pemain bernama lengkap Gabriel Armando de Abreu tersebut bereaksi. Setelah Gabriel bereaksi, Costa merengek meminta perhatian Dean dan hukuman untuk Gabriel. Licik memang, namun Gabriel juga salah.

Koscielny, tenang seperti biasanya, tidak bereaksi berlebihan setelah dua pukulan mendarat di wajahnya. Ketika bola yang sudah siap ia perebutkan dengan Costa urung datang ke arah mereka dan terus bergulir dalam permainan, Koscielny langsung meninggalkan Costa. Perhatian dia tetap tertuju kepada bola. Setelah yakin bahwa daerah yang menjadi tanggung jawabnya aman dari ancaman, barulah Koscielny menghampiri dan berbicara kepada lawannya. Koscielny tidak menyentuh Costa, ia hanya berbicara. Koscielny bahkan jatuh ketika Costa menabraknya dengan dada. Dari caranya jatuh, kecil kemungkinan Koscielny kalah kekuatan. Besar kemungkinan ia membiarkan dirinya ditarik gravitasi untuk mencegah anggapan yang tidak diinginkan dari Dean; Koscielny jatuh untuk menunjukkan bahwa ia tidak berniat menyentuh raga Costa mengingat kontak fisik dapat berakibat kartu kuning untuk dirinya.

Jika benar demikian, Koscielny telah mengambil langkah tepat karena ia tidak boleh membiarkan dirinya terus menerus diganggu. Koscielny melakukan hal yang tepat untuk dirinya dan untuk Arsenal. Kemudian terlibatlah Gabriel.

Reaksi spontan Costa terhadap cekikan Gabriel adalah melayangkan pukulan ke bagian belakang leher Gabriel. Mike Dean memberi kartu kuning kepada keduanya. Seharusnya urusan kedua pemain tersebut selesai di situ juga, namun Gabriel tampak tetap merasa masalah belum selesai entah karena alasan apa dan Costa menanggapinya karena, kemungkinan, ia melihat peluang untuk melemahkan lawan.

Jika Costa memang hanya ingin menanggapi Gabriel, ia bisa melakukannya dari jarak yang cukup jauh. Namun Costa memilih untuk terus merapat dengan Gabriel karena ketiadaan jarak antara keduanya membuat kemungkinan terjadinya kontak fisik meningkat. Costa berhasil. Gabriel terpancing dan keluarlah kartu merah dari kantung celana Dean.



Dengan kejadian seperti itu, dapat dimengerti jika para pendukung Arsenal merasa dicurangi. Namun salah jika mereka merasa tidak mendapat keadilan. Saat Costa menginjak Emre Can pada pertandingan semifinal Piala Liga 2014-15, Michael Oliver tidak menghukum Costa di lapangan. Namun FA menggunakan rekaman video untuk mempertimbangkan hukuman Costa sehingga pada akhirnya, Costa mendapat larangan bertanding sebanyak tiga pertandingan.

Seperti Oliver, Mike Dean tidak menghukum Costa untuk sebuah tindakan yang layak masuk dalam kategori violent conduct (tindak kekerasan). Mengingat pukulan Costa mengundang reaksi massa, kecil kemungkinan FA tidak mengambil sikap terhadap Costa. Para pendukung Arsenal bukan tidak mendapat keadilan; hanya (mungkin) belum. Tidak perlu merengek meminta, mereka hanya perlu menunggu. Lagipula, merengek meminta keadilan hanya akan membuat mereka menjadi sama dengan Costa.


=====

* Akun twitter penulis: @nurshiddiq dari @panditfootball


Nuhun for visit Biarkan Saja Diego Costa, Tak Perlu Pendukung Arsenal Menjadi Dirinya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar