Kamis, 17 September 2015

Berita Bola Umpan-Umpan Silang Barca di Olimpico

Berita Bola Umpan-Umpan Silang Barca di Olimpico

sumber berita Umpan-Umpan Silang Barca di Olimpico : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/49ed3d41/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C170C1445240C30A216430C1480A0Cumpan0Eumpan0Esilang0Ebarca0Edi0Eolimpico/story01.htm
Laga penyisihan Grup E Liga Champions 2015/2016 antara tuan rumah AS Roma melawan Barcelona berakhir imbang 1-1. Barca unggul terlebih dahulu pada menit 21 melalui sundulan Luis Suarez meneruskan umpan Ivan Rakitic. Roma bisa membalas melalui tendangan jarak jauh Alessandro Florenzi pada menit ke-31.

Kedua kesebelasan turun dengan formasi yang sama yaitu 4-3-3, namun dengan pola permainan yang jauh berbeda. Roma bermain dengan mengandalkan serangan balik dengan lebih dulu membangun pertahanan yang padat di area kotak penalti. Sementara kubu tamu bermain sangat menyerang dan menerapkan tekanan tinggi kepada lawannya.



Roma Main Bertahan dan Andalkan Serangan Balik

Pelatih Roma, Rudi Garcia, mengaku tidak ingin terlalu mengambil banyak risiko dengan memainkan pola menyerang yang terbuka ketika melawan Barca. Maka, sejak awal pertandingan kesebelasan besutannya bermain bertahan dengan garis pertahanan yang rendah. Selain menunggu di kedalaman, Roma juga tidak terlalu terburu-buru berusaha merebut bola dari Lionel Messi dkk.

Dua full-back yang diperani Alessandro Florenzi di sebelah kanan serta Lucas Digne di sisi kiri pun tidak bergerak lebih lebar seperti biasanya. Kedua pemain tersebut diintruksikan agar lebih rapat ke dalam kotak penalti. Jarak keduanya dengan duet bek tengah, Kostas Manolas dan Antonio Rudiger, pun menjadi lebih dekat. Kotak penalti Roma dengan sendirinya padat oleh para pemain sendiri.

Selain empat bek, tiga pemain tengah mereka, Daniele De Rossi, Seydou Keita dan terkadang Radja Nainggolan, juga rutin berkeliaran di depan kotak penalti sendiri. Koordinasi antara lini belakang dan tengah Roma tersebut berhasil memblokade percobaan tendangan Barca sebanyak lima kali.

Sistem seperti itu membuat Barca kesulitan mengirim umpan-umpan terobosan ke dalam kotak penalti Roma. Blaugrana, terus memutarkan bola di luar area kotak penalti dengan umpan-umpan pendek di lini tengah untuk mencari celah di muka gawang ojciech Szczesny. Terkadang skuat arahan Luis Enrique tersebut mencoba menembus pertahanan Roma dengan aksi-aksi individual para pemainnya, terutama melalui Messi yang malam itu menghasilkan empat dribel sukses.

Setelah berhasil mematahkan upaya serangan Barca dengan menumpuk pemain di jantung pertahanan, barulah De Rossi dkk. mencoba melancarkan serangan balik. Pola serangan balik dilakukan dengan mengandalkan umpan-umpan panjang yang diarahkan langsung kepada dua penyerang sayap mereka yakni Iago Falque dan Mohamed Salah yang sudah menunggu di area lapangan tengah.

Roma juga tidak jarang membangun serangan balik melalui kedua full-back. Hanya saja Florenzi lebih sering naik ke depan di sisi kanan ketimbang Digne yang berada di sebelah kiri. Melalui percobaan serangan dari area tersebut jugalah Roma mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-31 melalui tendangan jarak jauh Florenzi dari setengah lapangan.

Keberhasilan Barca Mengantisipasi Sayap Roma

Pola serangan Roma tidak banyak berubah dari musim lalu dengan mengandalkan kedua sayap mereka. Tapi saat ini bedanya mereka lebih berani melepaskan umpan-umpan silang ke dalam kotak penalti karena kehadiran Edin Dzeko yang andal dalam duel udara.

Enrique tampaknya sadar akan strategi baru Roma tersebut. Status sebagai tim tamu tidak membuat dirinya menginstruksikan pasukannya untuk bermain bertahan dalam garis rendah untuk memaksa beknya, Gerard Pique, berduel udara dengan Dzeko.

Enrique masih tetap percaya jika suplai bola kepada Dzeko akan bisa diatasi jika serangan dua penyerang sayap Roma bisa dihentikan. Maka dua full-back mereka, Jordi Alba dan Sergi Roberto, tetap bergerak di area masing-masing di kedua sisi lapangan. Ini berbeda dengan Roma yang menempatkan kedua full-back mereka, Florenzi dan Digne berada lebih ke dalam di kotak penalti.

Penempatan full-back Barca sesuai dengan posisinya tersebut mampu mengantisipasi serangan kedua penyerang sayap Roma: Salah di kanan, Falque di sisi kiri.

Awalnya Roma mengandalkan serangan melalui Falque agar bisa melepaskan umpan silang kepada Dzeko. Tapi pergerakan pemain bernomor 14 pada sisi tersebut selalu dibayang-bayangi Sergi Roberto yang membuatnya kesulitan melepas umpan silang. Bahkan satu umpan silang Falque berhasil diblok Sergi yang aslinya berposisi sebagai gelandang itu. Total tidak ada satu pun dari sembilan kali umpan silang Roma yang berhasil menemui sasaran.

Sadar kesulitan melepaskan umpan silang, maka kecenderungan serangan Giallorossi beralih mengandalkan sisi kanan melalui aksi individu Salah. Pada sektor tersebut ia harus berhadapan dengan Jordi Alba. Pemain full-back kiri Barca itu bahu-membahu dengan Jeremy Mathieu untuk meredam penyerang sayap kanan Roma tersebut. Inilah yang membuat Barca relatif bisa mengendalikan serangan Roma.

Bahkan upaya Salah dan Falque bertukar posisi pun tetap tidak berhasil dan tidak efektif membongkar pertahanan Barca. Sergi Roberto dan Jordi Alba sanggup secara konsisten dan disiplin membayang-bayangi dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Jarak yang Terlalu Jauh Antara Gelandang dengan Penyerang Roma

Serangan balik yang menjadi andalan Roma melalui tiga penyerang mereka jarang mendapatkan dukungan dari lini kedua. Ini dampak dari terlalu banyaknya pemain yang berkeliaran di dalam dan sekitaran kotak penalti. Ini mengakibatkan pemain tengah Roma sering terlambat maju ke sepertiga akhir (final third) Barca.

Hal tersebut sering membuat kebingungan Salah. Kala menguasai bola di sepertiga akhir lapangan, Salah sangat kesulitan mengalirkan bola. Ia kerap kebingungan karena jarak rekan-rekannya yang berjauhan. Mengirim umpan silang ke Dzeko pun bukan pilihan ideal karena ruang rekannya itu sudah demikian sempit karena terus mendapat pengawalan ketat dari Pique.


[Heatmap Roma (kiri) dan Barcelona (kanan). Sumber: Squawka]

Begitu pun ketika penyerang bernomor 9 itu mendapat bola. Ia juga mendapatkan masalah yang sama dengan Salah: kesulitan mengolah bola. Mau menembak tapi lebih sering membelakangi gawang, mau membagi bola ke pemain lain namun jaraknya saling berjauhan.

Seharusnya Nainggolan bisa cepat muncul dari lini kedua. Dzeko memang diplot sebagai tembok pemantul untuk Salah atau Nainggolan. Namun Nainggolan sering terlambat sampai di sepertiga akhir lawan dan Salah pun tidak bisa bergerak terlalu leluasa karena mendapat kawalan Jordi Alba maupun Mathieu.

Kekosongan Sisi Pertahanan Roma yang Mampu Dimanfaatkan Barcelona

Bertumpukya bek dan gelandang Roma di area kotak penalti sendiri memang cukup efektif mecegah umpan-umpan terobosan Barca. Total sebanyak 17 sapuan bersih dilakukan aksi bertahan para pemain Roma dan 19 intersepsi berhasil mematahkan aliran-aliran bola Messi dkk.

Tapi posisi kedua full-back mereka yang berada terlalu dalam kotak penalti mampu dimanfaatkan Barca untuk dijadikan celah mencetak gol. Terlalu rapatnya posisi Florenzi dan Digne ke tengah kotak penalti membuat ke dua sisi pertahanan Roma kerap melahirkan kekosongan yang sering dieksploitasi pemain dari lini kedua Barca.

Beberapa kali Barca memanfaatkan umpan silang ke sisi kotak penalti Roma untuk dijadikan peluang terutama diarahkan kepada Jordi Alba yang seolah menjadi tembok pemantul serangan di area kanan kotak penalti Roma. Hanya saja penyelesaian akhir Barca tidak terlalu bagus pada pertandingan tersebut. Mereka mencatat enam tendangan yang melenceng dari sasaran dan itu tidak terlepas dari cara bertahan Roma yang menumpuk di tengah-tengah kotak penalti.

Hal tersebut membuat pergerakan tanpa bola para penyerang Barca sering gagal melahirkan ruang-riang kosong. kesulitan mendapatkan ruang untuk menyelesaikan si kulit bundar pantulan rekan-rekan lainnya terutama dari Jordi Alba.

Tapi Barca justru mampu mencetak gol ketika umpan silang diarahkan menuju sisi kiri kotak penalti Roma yang disambut Ivan Rakitic. Tendangan Rakitic membentur pemain Roma dan mengarah kepada Suarez yang langsung meneruskannya dengan sundulan.


[Kekosongan area sisi pertahanan Roma yang mampu dimanfaatkan Ivan Rakitic muncul dari lini kedua]

Kesimpulan

Rencana taktik Garcia menerapkan permainan bertahan dan melancarkan serangan balik memang cukup efektif membuat Barca kesulitan menembus jantung pertahanan Roma melalui umpan-umpan terobosan. Strategi seperti itu memang gagal menyamai 75% penguasaan bola Barca, namun mampu memaksa skuat besutan Enrique itu memaksimalkan umpan-umpan silang walau cuma satu yang berhasil menjadi gol.

Sedangkan cara bertahan Barca berhasil mengantisipasi serangan melalui sayap yang selalu diandalkan Garcia. Tugas jantung pertahanan Los Cules juga dipermudah dengan jarak antara lini tengah dan depan Roma yang terlampau jauh. Hasil seri walau berstatus sebagai tuan rumah merupakan pencapaian yang cukup realistis bagi Roma.

=====

* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.


Nuhun for visit Umpan-Umpan Silang Barca di Olimpico

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar